Skip to content

Dampak Negatif Internet Bagi Pelajar

Oktober 10, 2011

Cegah dampak negatif internet pada anak dengan menemaninya (Foto: Getty Images)

MENDAMPINGI anak saat menggunakan internet sebaiknya dilakukan orangtua. Hal itu bisa mengurangi dampak negatif penggunaan internet. Perkembangan teknologi ini punya dampak baik dan negatif bagi anak.

Data dari International Telecommunications Union mengenai pengguna internet, yakni 12,5% dari seluruh masyarakat Indonesia adalah pengguna internet. Terhitung 42% dari pengguna internet dunia adalah penduduk Asia, sedangkan Indonesia berada di peringkat nomor 5 di Asia setelah China, Jepang, India, dan Korea Utara.

Sementara untuk peringkat dunia, Indonesia berada di urutan ke-13. Padahal, hanya 15% yang memanfaatkan internet untuk membaca informasi. Adapun untuk membuat jaringan pertemanan mencapai 15%.

Masih berdasarkan hasil penelitian tersebut, disebutkan pada 2009, dari seluruh warga Indonesia, pengguna internet diperkirakan masih berkisar 15%. Diketahui juga bahwa 75% remaja berusia 12-17 sudah memiliki ponsel.

Remaja perempuan umumnya mengirimkan 80 SMS per hari, dan laki-laki sekitar 30 SMS per hari. Sekitar 87% remaja pemilik ponsel, tidur dengan ponsel di sisinya. Sekarang internet bukan hanya sesuatu yang dipergunakan untuk urusan pekerjaan. Dalam hal bersosialisasi, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Konsultan pengamat komunikasi anak, Agus Faizal, mengatakan saat ini dalam masa pertumbuhannya, orang tua harus memperkenalkan balita dengan lingkungannya. Sekaligus memperkenalkan lingkungan dunia digital kepadanya, seperti orangtua memperkenalkan warna, bentuk, dan hubungan sosial.

“Jika perlu, berikan ‘pelatihan’ internet pada balita,” tuturnya dalam acara Smart Parents Conference, yang diadakan Frisian Flag Indonesia, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Agus mengatakan, melalui pelatihan ini, orangtua mulai mengenalkan bagian-bagian komputer yang sederhana dan kasatmata, seperti mouse, layar monitor, CPU. Tahap berikutnya, orangtua bisa memulainya dengan membuka browser internet dan browsing.

“Jelaskan seperti kita memperkenalkan bahwa kursi itu untuk diduduki,” ucapnya.

Di sisi lain, perangkat komputer ini juga dapat menjadi medium untuk belajar beberapa keterampilan dasar, seperti identifikasi bentuk, huruf yang cocok, sampai pada fungsi navigasi kibor yang nanti akan menjadi “habit” dunia digital mereka.

Yang juga menjadi penting bagi orangtua, adalah mengajarkan dan membiasakan balita untuk mengetahui adanya perangkat teknologi komunikasi yang canggih. Pemahaman yang benar akan mengantarkan mereka memasuki dunia digitalnya secara sehat dan cerdas.

“Orangtua bisa juga menggunakan peranti lunak edugameyang akan membuat belajar mereka semakin menarik, dan anak pun akan merasakan manfaat belajar,” sarannya.

Agus juga menyarankan untuk memperkenalkannya secara bertahap, sesuai dengan pertumbuhan usia mereka, dan tidak lupa untuk mendampingi saat anak berinternet. Melalui pendampingan dan pembelajaran yang intensif, orangtua tidak menjadi makhluk asing bahkan terasingkan bagi dunia digital mereka kelak. Komunikasi merupakan sarana yang paling efektif untuk saling belajar dan memahami pada perbedaan pandangan dalam kehidupan dunia digital ini.

“Yang terpenting adalah, bagaimana anak dapat belajar internet dengan nyaman dan memperluas wawasannya tanpa ada perasaan tertekan,” ungkapnya.

Untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan internet, orangtua harus memerhatikan hal lain seperti meletakkan perangkat komputer di ruang keluarga dan tidak di kamar anak, penggunaan software pengaman, bahkan jika perlu, bisa mengatur waktu dan durasi untuk penggunaan internet serta menentukan situssitus yang sebaiknya dikunjungi anak.

“Orangtua tidak harus selalu berada di satu ruangan ketika anak sedang berinternet. Namun, orangtua harus tahu dan sewaktu-waktu masuk ke dalam kehidupan digital anaknya, dan bertanya segala hal tentang aktivitasnya, termasuk aktivitasnya di internet,” pesannya.

Sementara psikolog anak, Roslina Verauli MPsi, mengatakan bahwa anak yang memasuki usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Karena itu, apabila saat ini marak terjadi penyebaran video atau foto yang berbau pornografi maka bisa saja anak ikut penasaran dan mencari tahu, bahkan ingin melihat seperti apa video atau foto yang banyak dicari dan dibicarakan banyak orang.

“Itu sebabnya, orangtua juga harus update akan teknologi,” tutur psikolog anak yang berpraktik di Empati Development Center.

Perkembangan teknologi seperti internet memang baik apabila dimanfaatkan secara benar, seperti untuk mencari informasi secara lebih mudah atau untuk bersosialisasi. Namun apabila penyalahgunaan sudah terjadi, sebaiknya orangtua segera memperingatkan anak, agar bahaya penggunaan internet tidak terjadi.

About these ads

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: